Baju
Restrain
Oleh
: Husniyatur Rizqiyah Dhomiri
Kasus : Seorang Pasien begitu impulsiv memukul
orang,sehingga keluarga membawanya ke RSJ, sesampainya di RSJ pasien mengamuk
membabi buta dan hendak memukul orang – orang di sekitarnya karena merasa tidak
gila.
Pasien : Kenapa aku dibawa
kesini mak? (Sembari membaca tulisan bertuliskan RSJ) Rumah Sakit Jiwa , Aku kan nggak gendeng mak?
Keluarga : Sudah nurut saja,
biar kamu itu sembuh.
Pasien : Samean pikir aku
gendeng ta mak?
Keluarga : Mak cuma pengen kamu
ketemu dokter karo perawat sebentar
Sesampainya di UGD, seorang
perawat yang melihat kedatangan mereka langsung memepersilahkan mereka duduk
Tahap pre interaksi
Perawat A: Selamat pagi, Mari
Silahkan duduk
Keluarga : (Sembari memegangi
tangan pasien keluarga menjelaskan maksud kedatangannya) Begini bu, anak saya
ini sejak 1bulan yang lalu mengalami putus cinta dan sejak itu juga, anak saya
jadi sering ngamuk dan memukul orang sampai meresahkan warga, jadi pak RT
menyarankan saya untuk membawanya kesini
Perawat A bertanya pada pasien
: Perkenalkan, nama saya perawat A, Nama mas siapa? (Mengulurkan tangan dengan memberi
senyum)
Pasien : Sumanto (menjawab
sinis)
Perawat A: Ada apa di rumah??
Apa yang membuat mas sumanto marah dan sering memukul orang?
Pasien : Lha aku kan cuma
membela diri, (menoleh pada keluarga) sudah aku mau pulang mak, aku ndak mau
disini. (Berusaha berlalu)
Keluarga : Heh, kowe mau
kemana?
Pasien : Muleh!!!! (dengan nada
tinggi dan melotot, sambil memukul ibunya)
Melihat itu perawat pun mulai
menyiapkan alat restrain
Tahap
Orientasi
Perawat
A berbicara pada keluarga : Mas, Ibu (pada keluarga) saya
akan melakukan pengamanan kepada mas sumanto, dengan cara menggunakan baju ini,
tangan mas sumanto akan terikat kebelakang agar mas sumanto tidak memukul orang
lagi. Ketika nanti mas sudah tidak memukul orang lagi maka akan saya lepas. Cara
ini tidak menyakitkan dan aman.
Pasien :
Enggak!!!!!! Awas nyedek tak hajar samean!!!!!
Perawatpun
mulai memegangi pasien, agar pasien tidak kabur. Sesegera satpampun datang
untuk memeberikan bantuan.
Satpam : Saya
boleh membantu untuk memegang?
Perawat A: Silahkan
pak
Perawat B: Untuk
ibu mari ikut saya ke ruang perawat
Perawat B dan keluarga
berjalan menuju ruang perawat
Perawat B : Ibu, perawat A tadi sudah menjelaskan
tindakan yang akan kami lakukan untuk mengamankan mas sumanto, bila ibu setuju
tindakan itu dilakukan silahkan ibu tanda tangan di lembar Inform Consent ini
Keluarga : Iya
saya setuju saja yang penting anak saya sembuh
Perawat B :
Baik ibu, kalau begitu kami akan melakukan tindakan restrain untuk anak ibu
Pasien meraung
– raung agresif sambil berkata “Aku nggak gila, kalian semua yang gila”, satpam
dan para perawat pun melakukan tahap kerja dalam pemasangan restrain setelah mendapat
persetujuan keluarga.
Tahap Kerja
- Memulai kegiatan dengan cara yang baik
- Memilih alat restrain yang tepat
- Memasang restrain pada klien dg cepat dan tepat
- Pegang pundak pasien dan tangan yang agresif, berjalan dibelakang pasien dan tetap waspada
- Buka baju dalam posisi "menyerbu"
- Pakaikan baju dengan cepat
- Handle tangan pasien ke belakang, seperti orang diborgol.
- Mengamankan restrain dari jangkauan pasien
- Menyediakan keamanan dan kenyamanan sesuai kebutuhan
- Melakukan pemeriksaan tanda vital
- Memeriksa bagian tubuh yang direstrain
- Memberikan obat anti cemas
- Memperhatikan respon pasien
Setelah tindakan restrain
dilakukan pasien mulai tenang dan perawat mulai menyimpulkan kegiatan
Tahap Terminasi
Perawat A: Mas sumanto & ibu,
ini merupakan metode restrain, ini metode kami sebagai tenaga kesehatan untuk
menenangkan mas sumanto agar mas sumanto tidak memukul orang lagi. Jadi mas
sumanto terutama ibu tidak perlu khawatir.
Perawat B: Nanti restrain ini
akan dilepas, apabila mas sumanto tidak memukul orang lagi. (Berbicara dengan sumanto)
Perawat B: Bu, sejenak saya akan
mengajak ibu untuk melengkapi data – data mas sumanto yang belum tuntas tadi.
Seusai perawat B melengkapi
pengumpulan data tentang pasien
Keluarga : Terima kasih, sudah
membantu saya menangani anak saya, nanti kalau anak saya mulai dirawat disini,
saya titip
Perwat B: Iya bu, karena itu
memang tugas kami, terima kasih juga atas kepercayaan ibu pada kami.
Selanjutnya perawat mulai
melakukan tindakan dokumentasi mencacat tindakan yang telah dilakukan pasien
dan mencatat respon pasien.