Sabtu, 26 Januari 2013

Jangan Begitu Ayah



Namaku kichi dalam bahasa jepang artinya keberuntungan, dengan nama ini aku berharap kelak tuhan benar – benar menjadikanku orang yang begitu beruntung. Aku bukan orang jepang ataupun memiliki keturunan jepang tapi entah kenapa orang tuaku memberikan nama itu.  Aku seorang mahasiswi dengan  karakter easy going dan juga agak pendiam, tapi kalau udah kenal enggak  juga kok. Walaupun cablak diam – diam aku suka nangis dan begitu sensitif. Tadi siang aku berjalan pulang  menyusuri jalanan tikus, aku melangkah santai dijalan yang sama sekali tak ramai itu.  Ketika langkahku sampai di salah satu sudut rumah warga, kulihat seorang ayah menemani balita perempuannya bermain sepedah, keduanya tampak begitu hangat. Teringat masa kecilku dulu, tak pernah aku dan ayahku seperti itu, karena ayahku begitu tempramen,tak jarang hukuman fisik aku dapatkan. Ku ayunkan langkah kakiku dengan sesimpul senyum, melihat ayah dan anak itu bahagia.
“Ayah aku tadi ikut lomba makan kerupuk, aku menang ayah.” Begitulah yang aku ingat, kata – kata yang aku sampaikan pada ayahku saat aku memenangkan lomba makan kerupuk saat kecil dulu. “Menang lomba makan kerupuk itu  bukan sesuatu yang membanggakan” Dengan nada tak suka begitulah ayahku menanggapi. Saat itu aku hanya diam, melangkah lunglai sambil mengernyitkan dahi dengan hati kecewa.  (Bersambung)


Kurebahkan tubuhku diatas pembaringan melepas lelah tadi sore..
Ingin sejenak mengajak mata ini larut dalam mimpi, 
tapi seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tetap terjaga..
Sebagai penghilang penat, kubuka lembar demi lembar kumpulan puisi Ratih Sanggarwati..
Mataku begitu antusias membaca bait demi bait karyanya.. 
Aku menangis.. teringat ibuku sayang..
Ketika kuresapi tiap bait puisi yang berjudul "Bila Ibu Boleh Memilih"

Bila Ibu Boleh Memilih

oleh : Ratih Sanggarwati 

 

 Anakku,
Bila ibu boleh memilih 
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu..
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak.. Engkau hidup di perut ibu..
Engkau ikut kemana ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang dinding rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman,
Karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku,
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar,
Atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan keluar kedunia
Sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang sakitnya tak akan pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah.. Saat yang paling membahagiakan
Segala sakit yang diderita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengar ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan
Penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,
Atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
Dengan tetesan -tetesan dan tegukan - tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,
Bila ibu boleh memilih duduk berlama - lama di ruang meeting
Atau duduk dilantai di rumah menemanimu menempelkan puzzle yang berkeping
Maka sebenarnya ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku..
Hidup memang pilihan..
Jika dengan pilihan dan tugas ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak..

Maafkan ibu..
Maafkan ibu..
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
 
 
 
 
 
 
 
 


Jumat, 25 Januari 2013



Aku merasakan cinta yang menyelip d’sela – sela hati..
Hatiku ternoda oleh rindu yang belum halal untukku..
Bukankah cinta & rindu untuk rabbku yang harusnya menjadi singgasana tertinggi..
Aku telah menghianatinya.. Aku jadikan manusia biasa meraja dalam hati dan khayalku..
Ku biarkan rinduku mengayun.. ku biarkan diriku memberi perhatian..
padahal ia belum halal untukku..
Aku malu.... meskipun cinta ini tak terucap..
Perilakuku merendahkan harga diriku.. rasa yang belum halal ini telah menggelapkanku..
Benar –benar susah untuk bertahan, Sejatinya rasa cinta memang fitrah yang tak terelakkan..

Untuk seseorang yang saat ini sedang aku kagumi.. Izinkan aku memintamu dalam do’aku untuk menjadi yang halal bagiku..



"Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah", Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisi-Mu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia & akhirat...









Saat pertamakali masuk dunia keperawatan hingga beberapa lama berada di dunia keperawatan, saya sempat  berkeinginan untuk punya suami yang seprofesi.
Kenapa?? Karena kita hidup dalam bidang yang sama pasti kita saling pengertian akan kesibukan masing – masing, mendapat dukungan maksimal saat menghadapi stress pekerjaan, nyambung untuk sharing segala sesuatu  yang menyangkut profesi kami. Namun kadang saya menganggap bahwa profesi perawat bukan profesi aman, karena perawat pastinya akan banyak berhubungan dengan lawan jenis entah itu teman kerja ataupun pasien, pada realitanya juga tidak jarang saya menemui perselingkuhan antar teman kerja hingga berujung perceraian. Na’uzubillahimindzalik.... dan saat ini, saya sedang berfikir untuk tidak mencari suami seorang perawat..

Senin, 14 Januari 2013



Disini PeNcarianku berakhir.
Dititik dimana aku menemukan kebenaran tak terbantahkan.
Masih banyak memang pertanyaan yang belum terpecahkan.
Tetapi entah KekuaTan apa yang membuat aku tetap bertahan.